Palihan, 21 Agustus 2012
Entah kenapa dari semalem aku kepikiran Putra.
Seorang cowo yg umurnya lebih muda dari aku namun udah kayak my older brother sendiri, dia termasuk salah
satu sahabat terbaik aku. Alasannya satu, yaitu karena aku belum lebaran ke
rumah orang tuanya untuk ketemu dia dan orang tuanya. Nyaman banget “menyusup”
ke dalam keluarga dia. Ngobrol bareng Bunda ma Pak Jun sering membuat aku
menyadari ada “sisi” lain yang g’ q dapat dari keluarga aku. Seperti yang q
alami tadi.
Jadi saat silaturahmi ke rumah Putra, aku disambut
oleh bapak-bapak yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dengan sedikit
bersuara dia memanggil putra agar keluar dari ruang TV dan menemui aku. Sejak
itu aku memang sedikit merasa aneh dengan bapak-bapak itu. Aku curiga apakah
bapak-bapak itu tuna wicara sebab apa yang diucapkan tidak terdengar begitu
jelas.
Kemudian aku ngobrol-ngobrol dengan Putra
membicarakan kejadian “semalam”. Apesnya si Putra abis kecelakaan semalam. Aku
di ajaknya ke belakang rumahnya buat ngeliat kondisi motornya yang rusak di
bagian depan. Untung si Putra g’ kenapa-kenapa mengingat jalanan malam itu yang
lagi rame dan motor “patner”
tabrakannya motor Yamaha Vixion. Hiihhhh…serem… Pas menuju garasi motor aku
ketemu Bunda. Disambut dengan senyuman dan beberapa pertanyaan aku langsung
berjabat cium tangan sambil menjawab pertanyaan Bunda.
Setelah melihat kondisi motor kami langsung kembali
ke ruang tamu sementara itu Bunda melanjutkan pekerjaan rumah tangganya. Di
ruang tamu ada aku, Putra dan bapak-bapak itu. Sebenernya aku masih penasaran
ma bapak-bapak itu. Aku sempat bertanya padanya “Sampun dugi ket wau Pak?”.
Tapi g’ ada respon. Sampai akhirnya datang Bunda dan pak Jun di ruang tamu.
Kami berbincang bersama.
Sampai akhirnya q tau bahwa bapak-bapak itu ternyata
tuna rungu dan tuna wicara. Bunda, Pak
Jun dan Putra berbincang dengan menggunakan bahasa isyarat. Pak Jun kenal
lelaki itu sejak tahun 2000 ketika dia dipindah tugas di Radar Congot. Lelaki
itu yang menemani pak Jun. “Rajin banget orangNy”, cerita pak Jun. “Tabungannya
banyak lho en, kalau buat beli mobil bisa deh”, sambung Putra. “Jadi dia nabung
buat naik haji” tambah Bunda. Seorang yang dilahirkan dengan keterbatasan dan
tidak memiliki perkerjaan tetap memiliki cita-cita yang tinggi buat naik haji.
Saluttt….
Bunda juga cerita kalau dia shalatnya rajin banget
baik shalat Dhuha maupun Tahajud. Puasanya juga g’ bolong-bolong. Kereeennnn…..
kalau mendengar cerita Bunda, aku jadi malu sendiri. Ibu laki-laki itu dulu
dihamili orang yang g’ bertanggung jawab, dia kabur. Naasnya ibunya jadi gila.
Kemudian melahirkan, nah “bayi” malang yang g’ berdosa inilah bapak-bapak yang
aku ceritakan dalam posting-an ini. Sekarang ibunya udah g’ tau pergi kemana. Kasian
banget... :(
Kami melanjutkan perbincangan sambil bercanda sampai
akhirnya aku harus pulang karena sudah ada yang menunggu di rumah. He… hayo
tebak siapa. Pacar??? Temen??? Atau???? Iyah, Sofi udah nunggu dirumah, motornya
mau dipake. Ok, That’s all cerita hari ini. Aku mendapat sentilan hari ini
untuk lebih mensyukuri apa yang aku miliki saat ini. Keluarga yang lengkap,
kebahagiaan, dan teman-teman yang selalu mendukung aku. Walau…. (sedih kalau
dipikirkan, mungkin ada beberapa orang yang tahu isi titik-titik tersebut). But it’s Ok… God’s knows what I need…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar